Chiputdisini’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Buku November 20, 2007

Filed under: Buku — chiputdisini @ 9:38 am

“Edensor”

Andrea Hirata

Saat baca buku ini, gue berulang kali tertawa, nyengir, terenyuh, tergugah. Jadi gue simpulkan bahwa buku ini bagus.

Gue beli buku ini karena posting di milis indobackpacker yang bilang buku ini memuat kisah perjalanan keliling Eropa, plus tokohnya kuliah di Sorbonne. Uuu… c’est mon reve eternel! Hahaha… Saat bukunya datang dari www.inibuku.com, gue langsung jatuh cinta sama foto pengarangnya. HAHAHA… Mungkin karena dia bersandar pada dinding batu yang kayaknya kuno banget, dengan pengumuman bertulisan Italia di sisinya. Tapi itu kan baru kulitnya.

Isinya diawali dengan kisah nama si badung Ikal (yang ganti nama 3x) dan orang-orang yang berpengaruh baginya. Ini awalan yang bagus, terutama bagi orang yang nggak baca 2 buku sebelumnya (Laskar Pelangi & Sang Pemimpi) seperti gue. Orang2 ini jadi tetap merasa mendapat kisah yang komplet, bukan sekadar lanjutan saja. Dilanjutkan dengan permohonan beasiswa Ikal ke Uni Eropa (sialan, kalo tahu GBHN berguna, mungkin dulu gue lebih mantengin MKDU! Hahaha), dan berangkatnya Ikal serta Arai ke Eropa. Terlunta sejenak di Belanda, sebelum akhirnya mendarat di Sorbonne. Selanjutnya, kisah tentang kuliah, teman-teman kuliah, serta percintaan Ikal. Sampai akhirnya taruhan yang membuat Ikal, Arai, dan semua teman kuliah mereka jadi keliling Eropa (dan Afrika) dengan mengamen di suatu libur musim panas. Diseling juga dengan kisah cinta mati Arai pada Zakiah Nurmala, dan Ikal pada Njoo Xian Ling.

Ada bagian-bagian yang menyentuh bagi gue, misalnya saat Ikal terharu mendengar lagu Anggun, Snow on the Sahara. Rasa kebangsaan gue ikut terusik dan tersentuh. Manisnya mendengar orang negeri sendiri tenar di dunia internasional. Gue juga tersentuh pada kisah cinta (platonis banget, actually) Ikal dan Katya, dan kisah Ikal dan A Ling–zahir-nya. I wonder, apakah Andrea Hirata sempat membaca Zahir-nya Paulo Coelho sebelum menyelipkan kisah Ikal dan A Ling.

Gue juga senang banget novel ini karena dia cerdas, dalam artian menyelipkan bumbu ilmu dengan luwes, tidak menggurui, tidak sekadar menempelkan. Seperti dalam Mimpi-Mimpi Einstein.

Yang bagus juga, buku ini penuh semangat, keceriaan, kenekatan, optimisme. Yang membungkus semua hingga cacatnya tertutupi.

Impresi lain yang gue dapat dari buku ini adalah gaya Melayu-nya yang kental sekali. Gue berusaha membayangkan di buku mana lagi gue mendapat gaya seperti ini? Dan berbagai nama pengarang Indonesia zaman dulu yang mampir ke kepala gue. Gue berusaha membayangkan karya-karya pengarang luar negeri. Nope, gak bisa… gayanya beda banget! So, mungkinkah ini gaya yang indigenous Indonesia? hihihi…

Sayang sekali, novel ini juga tidak luput dari cacat. Antara lain yang paling mengganggu gue adalah keterangan tentang Benjamin Franklin yang disebut Presiden AS yang menghapus perbudakan (itu Abraham Lincoln, Ben Franklin TIDAK PERNAH jadi presiden AS) dan percakapan. Entah kenapa percakapan dalam buku ini kalimatnya disusun vertikal, padahal itu membuat pembaca CAPEK.

Tapi all in all, novel ini sangat enak dinikmati kok…

 

Buku November 20, 2007

Filed under: Buku — chiputdisini @ 9:37 am

“POMPEII

Robert Harris

Terus terang aja gue baca buku ini karena katanya bakal dibuat film dan Orlando Bloom jadi pemeran utamanya (hehehe). Tapi nggak nyesel kok karena ternyata buku ini seru banget! Beda banget sama novel berikut Robert Harris yang pernah gue baca: Imperium. Imperium lambat, terlalu cerdas, bikin ngantuk. Sementara Pompeii meskipun cerdas, tak terasa menggurui. Sebaliknya fakta-fakta sejarah maupun sains yang dipaparkan membuat cerita terasa hidup.

Setting Pompeii pada tahun 70-an Masehi di pesisir barat Italia, yang sekarang jadi Napoli dsk. Bagi yang belum tahu, Pompeii adalah nama kota yang dikubur oleh letusan Gunung Vesuvius. Dan buku ini mengisahkan 4 hari seputar letusan mahadahsyat itu.

Diawali 2 hari sebelum letusan, air di kota-kota seputar Pompeii mengering dan berbau sulfur. Di zaman itu orang Romawi sudah memiliki sistem distribusi dan saluran air yang sangat baik dan modern. Air dialirkan dari mata airnya di Vesuvius dengan saluran air Aqua Augusta ke kota-kota di sepanjang pesisir. (Menurut gue, Harris cerdas banget mengambil core cerita dari soal air ini.)

Di Misenum (selatan Pompeii), insinyur air yang baru datang dari Roma, Marcus Attilius, disibukkan dengan masalah air ini. Saat bingung karena menghilangnya air, Marcus disambangi Corelia Ampliata yg histeris memintanya ikut demi menyelamatkan budak yg dibunuh ayahnya, jutawan Ampliatus, dg dilempar ke kolam belut. Budak itu dibunuh krn ikan-ikan koi peliharaannya mati semua. Sebelum dilempar ke kolam belut, budak itu berteriak bahwa yang salah airnya. Karena itulah Corelia minta tolong Attilius.

Attilius gagal menyelamatkan budak itu, tapi kembali mendapat bukti bahwa air dari Aqua Augusta berbau belerang, plus mulai membuka hati bagi Corelia (gosipnya peran ini ditawarkan bagi Scarlett Johanssen). Ketika kemudian air Aqua Augusta untuk Misenum dan kota-kota di utaranya, kecuali Pompeii, benar-benar kering, Attilius memutuskan pergi ke Pompeii untuk menyelidiki sebabnya.

Attilius minta kapal pada pemimpin garnisun Romawi di Misenum, Plinius. Pliny yang menganggap dirinya ilmuwan, langsung menyukai si insinyur muda, dan meminjamkan kapal untuk pergi ke Pompeii. Berangkatlah Attilius dengan anak buah yg belum akrab dengannya. Salah satu anak buahnya, sang mandor Corax, bahkan jelas-jelas menunjukkan kebencian pada Attilius.

Di Pompeii, Attilius segera mengatur ekspedisi untuk mencari kebocoran Aqua Augusta. Tak dinyana, dia segera berbenturan dengan sang jutawan Ampliatus. Ampliatus mengajak Attilius untuk kongkalikong mengalirkan air ke spa miliknya dengan bayaran tertentu. Dasarnya lurus, Attilius menolak mentah-mentah tawaran ini, akibatnya menjadikan Ampliatus musuhnya.

Saat Attilius berangkat ke pegunungan Vesuvius untuk mencari kebocoran, Corelia mencuri dengar rencana ayahnya membunuh Attilius. Gadis itu segera menyusul sang insinyur, selain untuk memberitahu rencana jahat itu, juga untuk memohon Attilius agar membawanya serta karena Corelia ogah dinikahkan dengan pilihan ayahnya.

Di kaki Vesuvius, Attilius berhasil mendapati kebocoran saluran Aqua Augusta, dan menambalnya. Corelia juga berhasil menemuinya dan memberitahu rencana jahat ayahnya, tapi kebalikan dg keinginan gadis itu, Attilius menyuruhnya pulang ke Pompeii.

Sementara itu tanda-tanda akan meletusnya Vesuvius makin nyata. Gempa-gempa kecil makin sering, dan suara gemuruh nyata terdengar. Saat anak buahnya kembali ke Pompeii, Attilius memilih mendaki Vesuvius untuk mencari tahu asal suara gemuruh dan gempa. Di puncak gunung, ia segera sadar bahwa gunung akan meletus, dan dimulailah pacuan antara manusia-kuda dengan lahar dan awan panas.

Attilius berhasil pergi dari kaki Vesuvius dan Pompeii. Tapi gunung itu benar-benar meletus, menyebarkan abu panas, mengguncang bumi dengan gempa. Attilius ikut di barisan depan pengungsi ke kota berikut. Ia berniat terus lari ke Misenum untuk minta tolong garnisun Romawi pimpinan Pliny. Pliny memang segera menolong dengan mengerahkan seluruh kapal perang ke Pompeii untuk mengangkut pengungsi. Sayang sekali, kemarahan Vesuvius ikut membuat laut bergolak, dan armada itu musnah.

Attilius berhasil ikut armada tersebut sampai setengah jalan kembali ke Pompeii. Teringat pada Corelia, dan rasa bersalah karena menyuruh gadis itu kembali ke Pompeii, ia berkeras ingin kembali ke sana. Di Pompeii, setelah letusan pertama, orang-orang masih berkumpul, bahkan mulai melakukan penjarahan. Attilius berhasil menemukan Corelia, tapi dia harus menghadapi Ampliatus.

Saat ini Pompeii menjadi objek wisata. Sejak abad ke-18, diadakan penggalian situs purbakala di sana. Dari penggalian tersebut banyak temuan utuh, termasuk jasad manusia dalam pose-pose sehari-hari.



 

Buku November 19, 2007

Filed under: Buku — chiputdisini @ 11:14 am

“The Boy In The Stripped Pyjamas”

John Boyne

Kisah tentang Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis ini sulit sekali digambarkan. Biasanya kami memberikan ringkasan cerita di sampul belakang buku, tapi untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya.

Demikian kutipan sinopsis di sampul belakang buku ini.

Membaca The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis) memang lebih nikmat jika kita makin sedikit tahu. John Boyne, sang penulis, mengisi halaman demi halaman dengan informasi yang membuat kejutan di akhir buku.

Tokoh utama buku ini adalah anak berusia 9 tahun bernama Bruno, yang hidup pada masa Perang Dunia II. Buku ini dimulai ketika Bruno, yang anak perwira Jerman, bersiap-siap pindah ke kota lain karena tugas ayahnya mengharuskan mereka sekeluarga untuk pindah. Di tempat baru, Bruno bosan setengah mati hingga suatu hari dia menemukan pagar dan persahabatan yang mengubah hidupnya.

Kisah tentang Holocaust dan Perang Dunia II memang sudah sering ditulis oleh banyak orang. Namun John Boyne penulis asal Irlandia ini mengambil sudut pandang yang berbeda, yang membuat novel ini memiliki efek kejutan dahsyat di akhir cerita. The Boy in the Striped Pyjamas sendiri memperoleh banyak penghargaan di Irlandia dan Inggris, dan termasuk buku yang masuk longlist Carnegie Medal.

Dalam buku ini kita belajar melihat Perang Dunia II dan pembantaian kaum Yahudi dari sudut anak-anak. Bagaimana perang itu adalah tragedi bodoh yang membuat semua orang yang terlibat jadi korban.

Novel ini konon masuk kategori buku anak-anak, tapi di Indonesia dikategorikan sebagai buku dewasa. Tapi memang setelah saya baca, novel ini berat jika dibaca anak-anak, dan rasanya lebih cocok untuk pembaca dewasa. Saya sendiri menangis berlinang air mata seusai membaca buku yang perih dan menyayat hati ini.